|
Mungkin
fakta bahwa saya seorang imigran di Amerika Serikat membuat saya
merasakan bahwa permasalahan identitas menduduki tempat utama
dalam semua gangguan yang kita hadapi masa kini, mereka, para
imigran pertama-tama melepaskan segala identitas nasional yang
lama pada skala sangat besar untuk dapat memperoleh satu negara
baru.
Kata seorang psikonalis Erik H. Erikson, oleh masyarakat Amerika
memberinya julukan "Guru Masa Kini". Bertolak dari uraian
diatas bahwa. Konsep identitas dalam psikologi umumnya menunjuk
kepada satu kesadaran akan kesatuan dan kesinambungan pribadi
yang pada dasarnya tidak pernah terpisahkan meskipun terjadi perubahan-perubahan
selama fase perkembangan hidup.
Orang yang dalam proses mencari identitas adalah orang yang ingin
menentukan siapa dan bagaimana dia pada saat sekarang ini dan
siapa atau apakah yang dia inginkan pada masa mendatang.
Jika ungkapan tersebut muncul pada diri seseorang baru pada saat
itu manusia memperoleh suatu pandangan jelas tentang diri, tidak
meragukan tentang identitas batinnya sendiri serta mengenal peraya
dalam masyarakat, tetapi ini baru mungkin apabila ia sadar akan
kelemahan dan kelebihan yang dia miliki seperti kesukaannya dan
ketidak sukaannya, aspirasinya, tujuan masa depan yang di antisipasi
dan perasaan bahwa dia dapat dan harus mengatur orientasi hidupnya
sendiri.
Pemuda sebagai Embrio Regenerasi suatu bangsa memiliki masa adelonsia
dimana pemuda untuk pertama kali secara diminitif harus menentukan
siapakah dan apakah dia ketika itu dan ingin menjadi siapa dan
apa dia di masa depan, (Masa Adelonsia yang sangat kental terhadap
"Krisis Identitas").
Identitas memiliki identifikasi sebagai suatu kesadaran yang dipertajam
dan sebagai suatu kesatuan unik yang menjaga kesinambungan arti
penjelasan di masa lampau bagi dirinya sendiri dengan orang lain.
Menurut De Levita Aspek-aspek Identifikasi Identitas adalah :
- Identitas sebagai intisari seluruh kepribadian yang tetap tinggal
sama walaupun berubah ketika menjadi tua serta dalam dunia sekitar.
- Identitas sebagai keserasian peran sosial yang pada prinsipnya
dapat berubah dan berubah-ubah.
- Identitas sebagai "bagai hidupku sendiri" yang berkembang
dalam tahap-tahap terdahulu dan menentukan bagaimana peran sosial
itu dapat terwujud.
- Identitas sebagai suatu yang khas pada tahap Adelonsasi yang
dapat berubah dan dipahami setelah setiap Adelonsasi.
- Identitas sebagai pengalaman subyektif.
- Identitas sebagai kesinambungan diri sendiri dengan orang lain.
Proses terjadinya identitas dapat diungkapkan juga secara abstrak.
Identitas ialah suatu proses restrukturisasi segala identifikasi
dan pengalaman terdahulu, seluruh identitas fragmeter baik dan
buruk, atau positif negatif diolah dalam perspektif suatu masa
depan yang diartisipasi, manusia merupakan identitasnya, apabila
dia dapat menggabungkan pengalaman-pengalaman tersebut menjadi
tatanan baru yang positif.
Tahap khas dari krisis identitas sebenarnya adalah masa Adelonsia,
yaitu saat pemuda mencoba-coba dengan berbagai macam konfigurasi
dari identitas positif dan negatif seperti mencoba mode berpakaian,
mengikuti peran aktor atau artis yang disenangi untuk akhirnya
menetapkan mana yang cocok. Karena masa Adelonsia adalah masa
peralihan di finitif dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Pendapat
Eriksen tentang pembentukan identitas adalah : akhirnya pembentukan
identitas pada saat identifikasi tidak dapat
187.
Dengan demikian penentuan identitas sesungguhnya baru bermula
pada masa Adolensasi. Namun hal itu belum bisa menjadi patokan
karena masih bersifat dinamis, selalu berkembang dan senantiasa
berubah-ubah sepanjang hidup individu. Erikson juga berpendapat
bahwa identitas pada hakikatnya bersifat "psikososial"
karena pembentukan identitas memiliki hubungan timbal balik pada
diri sendiri ditengah-tengah masyarakat. Freud berpendapat identitas
adalah rasa kerasan, suatu konstruksi pada diri sendiri, yang
mengikat individu itu pada anggota rasnya dan kelompoknya.
Jadi masalah identitas ialah masalah bagaimana suatu kesinambungan
ditentukan antara masa lampau dan masa depan masyarakat, dimana
identitas pemuda sebagai transformator kritis dari kedua masa
sosial tadi. Identitasnya yang unik dalam diri sendiri, tetapi
dia juga ingin tahu jenis manusia apakah dia, seorang Jerman,
Amerika, atau Indonesia orang hitam atau putih, seorang pegawai,
petani, pelajar atau seorang Maha guru dan sebagainya.
Sebagaimana telah dikatakan, tahap yang menentukan pembentukan
identitas adalah masa adolesensi yang di mulai pada umur 13 atau
14 tahun. Dalam masa remaja ini muncullah suatu "krisis identitas",
yang berakhir entah dengan membawa suatu pembentukan identitas
"Ego" yang mantap atau menghasilkan "rasa kehilangan
diri" yang agak patologis. Erikson menyebut tahap ini suatu
"krisis identitas", karena di sini kegagalan sementara
berfungsi untuk menetapkan suatu identitas stabil. Bahaya kebingungan
peran sosial harus diatasi, sehingga akhirnya dapat terjadi suatu
perubahan perspektif radikal. Dalam krisis ini segala mekanisme
psikososial dari identitas berlawanan, sehingga terjadi kekacauan
peran yang menjadi bahaya khas periode ini dan menjadi masalah
pokok yang dihadapi pemuda. Krisis yang paling berat dan paling
berbahaya, karena penyelesaian yang gagal atau berhasil dari krisis
identitas itu mempunyai akibat jauh untuk seluruh masa depan dari
Ego dewasa, bahkan dari generasi-generasi anak yang berikut. Baru
sesudah masa adolesensi yang harus memantapkan suatu identitas
kuat, kita dapat berbicara tentang suatu Ego dewasa yang matang.
Tanpa penetapan suatu identitas yang terintegrasi baik (tentu
sebagai suatu kompromi yang relatif bebas konflik) manusia selama
masa dewasanya akan mengalami kesulitan terus-menerus dan tetap
akan dibebani dengan berbagai macam konflik yang mengacaukan dan
membingungkan.
Erikson menguraikan masa adolesensi sebagai "periode lingkaran
hidup di mana setiap pemuda harus menciptakan untuk dirinya sendiri
suatu perspektif dan orientasi sentral, suatu kesatuan psikososial
yang berfungsi baik dengan mengolah pengaruh sisa-sisa masa kanak-kanaknya
dan harapan-harapan masa dewasa yang diantisipasinya ; dia harus
menemukan suatu kesamaan yang berarti antara apa yang dapat dia
lihat dalam dirinya sendiri dan bagaimana menurut kesadarannya
yang lebih tajam orang lain menilainya dan mengharapkan dari padanya
(young man Luther, halaman 12). Adolesensi merupakan tahap terakhir
dari tahap masa kanak-kanak namun proses adolensensi itu baru
betul-betul berakhir apabila individu menempatkan segala identifikasi
yang baru, yang tercapai dalam kebersamaan yang amat mengasyikkan
serta dalam masa belajar suatu keahlian yang berciri bersaing
bersama dengan dan di tengah-tengah teman-teman sebaya. Maka periode
adolesensi adalah masa di mana individu sangat terlibat dalam
proses menentukan diri (yang sering diiringi dengan rasa takut
dan ketegangan yang meningkat), di mana segala sasaran pribadi,
tujuan sosial dan cita-cita antar pribadi harus diuji kembali
dan diubah. Makna dari periode adolesensi ini terdapat dalam pergumulan
keras untuk merebut identitasnya sendiri, yang sebenarnya tidak
lain daripada usaha menyiapkan diri untuk kehidupan sebagai orang
dewasa di mana si remaja harus mencari tempatnya sendiri yang
dapat diakui oleh seluruh masyarakat.
Benar bahwa krisis adolesensi merupakan peralihan yang amat sukar
dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Sesudah orang berhasil dengan
mudah untuk mensintesiskan segala pengalaman dan reaksi dari setiap
tahap masa kanak terdahulu, maka dia harus meninggalkan masa kanak-kanak
itu dan memilih satu tempat dalam dunai orang dewasa. Hal ini
mengandaikan suatu kepekaan khusus pada perubahan sosial dan historis.
Periode yang sulit dapat dicirikan sebagai berikut :
"Itulah periode kemurungan serta perasaan halus; periode
dari pikiran gelisah dan badan lesu; masa rasa berambisi serta
keinginan kuat untuk menjelajah dan mengenal segala kemungkinan,
namun juga masa untuk bermuram terus-menerus dan berkeliaran;
masa kebimbangan tak terduga antara keduniawian yang berlebihan
dan kenaifan luas biasa; masa antara usaha menjadi lebih dewasa
daripada orang dewasa sendiri lalu menjadi lebih bersifat kekanak-kanakan
daripada anak-anak. Dan terutama, periode adolesensi ini adalah
masa krisis penuh ketidak pastian apabila pemuda harus melibatkan
diri (biasanya sesudah sekian banyak mengalami kegelisahan pada
mulanya) dalam satu penentuan diri yang akan diakui oleh diri
sendiri dan orang lain (L.W. Pye, dalam Psychoanalysis and History,
halaman 158).
Apabila krisis identitas dilalui secara normal, timbul suatu identitas
yang terintegrasi, koheren, dan jelas. Tentu identitas ini yang
kebanyakan menjadi bagian terbesarnya positif, meskipun disertai
pula oleh sisi gelapnya yakni "identitas negatif". Bagaimanapun
kebingungan identitas ini mengakibatkan suasana ketakutan, ketidak
pastian, ketegangan, isolasi, dan ketaksanggupan mengambil keputusan.
"keadaan ini dapat menyebabkan si pemuda merasa terisolasi,
kosong, cemas dan bimbang. Pemuda merasa bahwa dia harus mengambil
keputusan penting, namun dia tidak sanggup berbuat demikian. adolesen
dapat merasa bahwa masyarakat memaksa dia untuk mengambil keputusan,
maka dia menjadi lebih bersifat menentang lagi. Para adolesen
ini sangat prihatin pada masalah bagaimana orang-orang lain melihat
mereka, dan mereka cenderung memamerkan keyakinan diri yang cukup
tinggi dan memperlihatkan keadaan-keadaan maju pemunduran yang
sewaktu-waktu terjadi ke arah keadaan infantil ternyata menjadi
suatu alternatif yang baik bagi keterlibatan ruwet yang diharuskan
darinya dalam satu masyarakat dewasa. Tingkah laku si remaja amat
tidak konsisten dan tidak dapat diramalkan selama dalam keadaan
kacau-balau itu. Pada suatu ketika dia merasa berat untuk melibatkan
diri dalam pergaulan dengan satu orang pun karena dia merasa takut
ditolak, dikecewakan, atau disesatkan. Tetapi pada saat lain,
dia ingin menjadi seorang pengikut, pencinta, atau murid bagaimanapun
akibat-akibat dari keterlibatan semacam itu" (C.S. Hall/G.
Lindzey, Theories of Personality, halaman 96).
Tempat kritis khas dari masa adolesensi dalam keseluruhan lingkaran
hidup ditunjukkan secara tepat oleh istilah "moratorium psikososial".
Setiap masyarakat mengizinkan suatu periode "kosong"
antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang resmi pada para adolesensinya
:
"Suatu jangka waktu yang sesudahnya mereka bukan lagi anak-anak,
tetapi sebelum perbuatan dan pekerjaan mereka dihitung sebagai
sesuatu yang mengantar kepada identitas masa depannya" (Young
Man Luther, halaman 43).
Jadi bahaya pada Fase Adelonsia yakni "Krisis Identitas"
meliputi :
1. Kesadaran identitas atau kepastian diri ekstrem, yang dialami
pemuda yang masih meraba-raba dan berusaha menemukan diri yang
mantap, supaya dia dapat mengimbangi dan menyembunyikan ketakpasitan
diri yang amat mendalam. Hal itu menjadi nyata dalam sifat malu-malu
atau justru dalam sifat tak tahu malu pada pemuda.
2. Identitas negatif merupakan suatu ringkasan yang memuat semua
hal yang termasuk kelompok identifikasi negatif atau segala hal
yang anda tidak ingin menyerupai. Identitas negatif ini terdiri
dari, misalnya, badan yang diperkosa atau dikebiri, kelompok etnis
yang ditolak, minoritas yang diperas, dan sebagainya.
3. Kekacauan perspektif waktu yang disebabkan oleh kehilangan
fungsi Ego, yang membeda-bedakan berbagai perspektif waktu dan
memungkinkan harapan masa depan.
4. Pelumpuhan kerja atau gangguan kesanggupan berprestasi yang
nampak entah dalam ketaksanggupan total untuk memusatkan perhatian
pada kerja apa pun saja, atau dalam keasyikan melulu dengan hal
yang selalu sama.
5. Kebingungan identitas dan kekacauan peran seperti yang telah
saya bicarakan/singgung tadi.
6. Kebingungan biseksual yang merupakan ketakpasitan yang sangat
mendalam dari pemuda yang tidak merasa diri jelas termasuk dalam
kelompok jenis kelamin tertentu. Kebingungan seksualitas ganda
ini gampang membawa pemuda kepada homoseksualitas atau juga penolakan
keras terhadap segala seksualitas.
7. Kebingungan kewibawaan yang merupakan rasa tak sanggup untuk
menaati atau memberi perintah begitu saja. Setiap situasi persaingan
atau struktur hierarkis dalam hal kekuasaan atau kewibawaan menyebabkan
orang itu menjadi panik.
8. Kekacauan ideologis yang akan terjadi pada seorang pemuda yang
tidak dapat memilih dengan tegas suatu ideologi atau agama tertentu.
Dari
Analisis Tersebut,
Perlulah kiranya memahami psikologi remaja yang sangat rentan
terhadap "krisis identitas" guna menanggulangi kenakalan
remaja, bisa jadi kondisi saat ini dimana kenakalan remaja saat
diatasi disebabkan kita kurang memahami perkembangan psikologi
pada remaja.
|